Bagaimana Akhir Ramadhan Kita Saat Pandemi Ini?

Blog Single

Primi Rohimi, S.Sos., M.S.I.

 

Saat ini, kita sudah berada di hari-hari terakhir di bulan Ramadhan. Sangat tepat jika kita bisa melakukan monitoring, evaluasi, review, bahkan audit dalam hal ibadah kita di bulan Ramadhan. Apakah kualitas dan kuantitas ibadah kita sudah sesuai dengan aturan dan anjuran dari Allaah SWT. Tentu saja kita bisa menilainya dari indikator-indikator yang sudah kita ketahui dari kajian-kajian kita selama ini. Apabila tidak ada temuan negatif maka bersyukurlah dan kita jaga hingga akhir Ramadhan bahkan selama hidup. Jika terdapat temuan negatif dan tidak sesuai dengan indikator muttaqin maka masih ada kesempatan untuk kita tingkatkan dengan semaksimal mungkin. Apalagi Ramadhan kali ini terjadi saat pandemi yang menyebabkan ibadah kita menjadi lebih istimewa.

Bagaikan sedang membuat suatu mahakarya, kita ini sudah membuatnya 70%. Sisanya yaitu 30% sangat menentukan bentuk karya tersebut. Jika finishing-nya bagus maka akan menghasilkan mahakarya yang luar biasa. Namun jika finishing-nya biasa saja bahkan lebih buruk, mahakarya tersebut akan sia-sia.

Di akhir Ramadhan ini, ada beberapa hal yang perlu kita renungi bersama. Di antaranya adalah Allah SWT menciptakan umat Nabi Muhammad ﷺ dengan berbagai keistimewaan. Di antaranya adalah Allah SWT menciptakan umat Nabi Muhammad ﷺ sebagai umat yang lahir paling akhir di muka bumi ini. Ini berdampak sangat istimewa. Yaitu siksa kuburnya tidak berjarak terlalu lama dengan kiamat. Umat Nabi Muhammad ﷺ yang meninggal dalam keadaan membawa iman, akan berpeluang mendapatkan syafa`at Rasulullah ﷺ.

Keistimewaan lainnya adalah umat Nabi Muhammad ﷺ diciptakan oleh Allah SWT dengan umur rata-rata antara 60 sampai 70 tahun. Hal ini sebutkan dalam hadits Nabi `Umur-umur umatku antara 60 hingga 70 tahun. Sedikit di antara mereka yang melewati usia tersebut.` (HR At-Tirmidzi). Di antara hikmah umur pendek ini adalah supaya umat Muhammad tidak capek melakukan ibadah yang panjang seperti umat terdahulu. Dalam pendeknya umur, Allah memberikan peluang lailatul qadar sehingga apabila lailatul qadar ini bisa digunakan dengan baik, hal tersebut lebih baik daripada seribu bulan atau 83 tahun lebih yang tidak ada malam lailatul qadarnya.

Lailatul qadar tidak dijelaskan secara pasti jatuhnya kapan supaya kita beribadah terus menerus. Namun, indikasinya adalah Rasulullah ﷺ begitu tampak memenuhi sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. Hadits yang diriwayatkan oleh istrinya, Aisyah radliyallahu`anha `Nabi ﷺ ketika memasuki sepuluh hari terakhir mengencangkan sarungnya, menghidupkan malamnya dan membangunkan keluarganya.` (HR Bukhari Muslim). Hadits tersebut dapat dimaknai sebagai cara Rasulullah ﷺ menghidupkan lailatul qadar adalah dengan menjadikan sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan sebagai momen full-fullnya ibadah.

Bulan Ramadhan juga merupakan bulan Al-Quran. `Bulan Ramadhan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan menjadi penjelas dari petunjuk dan dari petunjuk-petunjuk itu dan menjadi pembeda (dari perkara yang haq dan bathil).` (QS Al-Baqarah: 185). Imam Syafi`i selalu mengkhatamkan Al-Qur`an sehari sekali dalam shalatnya di luar Ramadhan. Di bulan Ramadhan, Imam Syafi`i dalam sehari semalam menghatamkan Al-Qur`an dalam shalat sebanyak dua kali khataman. Oleh karena itu, mari pada bulan Al-Qur`an ini, kita perbanyak bacaan Al-Qur`an kita.

Bagi yang merasa belum bisa membaca ayat-ayat suci Al-Quran, jadikan Ramadhan ini sebagai awalan dalam mempelajari Al-Qur`an sesuai tajwid kepada guru yang benar. Masih ada waktu, setidaknya lakukanlah meskipun hanya di akhir Ramadhan. Insya Allaah akan berlanjut setelah Ramadhan dan seterusnya.

Indikator-indikator tersebut bisa menjadi dasar untuk melakukan audit di akhir bulan Ramadhan untuk kemudian kita tindak lanjuti dengan perbaikan. Semoga kita bisa melakukan monitoring, evaluasi, review, bahkan audit dalam hal ibadah kita di hari-hari akhir bulan Ramadhan saat pandemi ini sehingga kelak kita meninggalkan dunia ini dalam keadaan husnul khatimah, Aamiin

Share this Post:

Related Posts: