Jejak Moderasi Beragama di Balik Masjid Wali: Refleksi KKN IK IAIN Kudus

Blog Single

Oleh: Nur Said
Dosen Fakultas Ushuluddin IAIN Kudus

Hampir di setiap dukuh ada masjid. Sehingga setiap desa bisa puluhan masjid termasuk sejumlah Masjid Wali. Inilah ruang pemagangan budaya yang paling merakyat disamping Langgar yang akhir-akhir ini namanya bergeser menjadi Musholla.
Ternyata masjid menjadi titik ruang budaya (cultural sphere) tumbuhnya Islam ramah atau sekarang dikenal dengan moderasi beragama atau Islam nusantara. Hal ini terungkap dalam "Ngaji Sejarah Moderasi Beragama, Banyu Salamun, Untuk Bangsa Sehat Jiwa Raga" di Masjid Wali Al Ma'mur Jepang Mejobo Kudus, Rabo, (6/10/2021). Acara yang digelar oleh peserta KKN IK IAIN Kudus bekerja sama dengan Remaja Masjid ini makin gayeng karena diselingi sholawat terbang papat dan pemutaran video dokumenter karya mahasiswa KKN IK IAIN Kudus. Peserta terhibur dengan tontonan yg penuh tuntunan itu.

Salah satu narasumber, pegiat sejarah Nur Aziz dari warga setempat berkisah, Masjid Wali Al Ma'mur Jepang ini didirikan bersama Ario Penangsang atas petunjuk Sunan Kudus. Untuk kebutuhan hidup inilah lalu mereka membuat sumur yang sekarang mata airnya masih mengalir yang dirawat dan diruwat melalui ritual Banyu Penguripan dalam momen Rebo Wekasan.

Benih-benih moderasi beragama sudah muncul sejak 5 abad yang lalu melalui media air atau dikenal dengan Banyu Salamun (air keselamatan) di Desa Jepang ini.

Inilah mengapa para wali banyak mendirikan masjid wali yg tersebar di berbagai desa dengan lambaran budaya setempat sebagai upaya membangun jaringan dakwah Islam ramah di berbagai daerah.

Hal ini bisa dilihat dari istilah Banyu Salamun dari bahasa Jawa yang berarti air keselamatan. Hal ini sebagai upaya menyampaikan pesan inti Islam adalah jalan keselamatan dari Dzat yang Maha Kasih Sayang yang juga terekam dalam Surah Yasin: 58 dan beberapa ayat yang lain.

Banyak jalan berbagi kasih sayang termasuk melalui ritual Banyu Salamun. Air sebagai kebutuhan mendasar bagi kehidupan memberikan pesan bahwa kita semua perlu menjaga keseimbangan alam agar mata air tetap mengalir untuk generasi yang akan datang dan lingkungannya. Tentu ini bagian dari pesan Islam rahmatan lil'alamin sbg inti dari Moderasi Beragama.

Ngaji sejarah di masjid ini menyadarkan kita bahwa jatidiri setiap masjid ternyata unik dan memiliki ruang batin yg perlu disimak oleh para jamaahnya juga lingkungannya. Maka kalau Rama KH Bisri Musthofa tahun 1950an menulis kitab kecil "Tarikhul Auliya" , sejarah para wali di Jawa, bisa jadi ini wujud keprihatinan beliau bahwa ngaji sejarah juga perlu digelar di masjid-masjid agar generasi masjid ada gairah baru dalam memakmurkan masjid. Tentu dengan tidak meninggalkan materi ngaji lain seperti tauhid, Feqh, Al Quran Hadis dan lainnya. Karena nyaris ngaji Tarikh belum bnyak tersentuh di masjid-masjid kita. Padahal dari masjid inilah ruang budaya yg strategis dalam menyemai Islam ramah dari pinggir. Dari masjid inilah pagar moderasi beragama bisa dikuatkan secara sederhana namun penuh makna. Maka kita makmurkan masjid dengan tradisi Islam Ramah, agar pagar moderasi beragama sekitar kita makin kokoh.
Itulah antara lain pesan yang tersampaikan dalam acara Ngaji Sejarah sebagai bagian dari rangkaian penutupan KKN IK IAIN Kudus di Jepang (Indonesia) tahun 2021. KH Ridwan sebagai Nadhir Masjid Wali Al Ma'mur berharap agar penutupan KKN ini, bukan akhir dari kegiatan, tapi berharap ada kegiatan lanjutan yang lebih maslahah untuk bersama membangun khaira ummah. Berkah silaturrahin dalam rangka khidmah, kerinduan untuk selalu bergerak makin memuncak. JAS MERAH Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah. Fa'tabiruu yaa ulil abshaar. (*)

Share this Post:

Related Posts: