Puasa Pada Era Millenial

Blog Single

Oleh Dr. Masturin, M.Ag

Terjadinya perubahan, perkembangan, dan evolusi pada masyarakat sangatlah beragam. Agama mendalilkan sebuah konsep tentang kesempurnaan, dan menggariskan sebuah metode tentang pertumbuhan, agar manusia dapat mencapai pertumbuhan itu baik secara individual maupun kolektif. Konsep sekuler tidak mampu untuk mengarahkan terhadap kesejahteraan, dan ketentraman manusia tetapi hanya mampu memberi penilaian setelah semua terjadi, hal ini perlu disadari bahwa konsep agama lebih mengedepankan keselamatan, kesejahtraan, dan ketentraman manusia dari pada konsep sekuler.

Perubahan zaman memang terus terjadi, tetapi kewajiban menjalankan perintah Allah harus dijalankan termasuk menjalankan ibadah puasa bagi orang muslim yang beriman, termasuk anak-anak millenial. Perilaku dan cara berfikir di Era millenial harus didasarkan nilai-nilai agama, tidak ketinggalan juga nilai-nilai ibadah puasa yang diperintahkan oleh Allah dalam al-Qur’an: “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu sekalian berpuasa (Ramadlan) sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu sekalian, supaya kamu sekalian menjadi bertaqwa.” (QS. Al-Baqarah: 183).

Begitu penting dan mulianya bulan Ramadlan sehingga Nabi Muhammad SAW bersabda:

 “Barang siapa berpuasa Ramadlan karena percaya kepada Alloh dan hanya mengharapkan (ridlo) kepada Alloh, maka akan diampuni semua dosa yang telah dilakukannya.”(HR. Bukhari dan Muslim).

Pada hadis lain juga dijelaskan bahwa bulan Ramadhan sangat berharga bagi semua manusia termasuk anak-anak millennial, yaitu sesuai Sabda Rasulullah: “Andaikata umatku mengetahui keutamaan di dalam bulan Ramadlan, niscaya mereka akan mengharapkan sepanjang tahun menjadi bulan Ramadlan.”(HR. Ibnu Abi Dunya).

Bahkan dalam hadits qudsi dikatakan bahwa: “Setiap amal yang dilakukan anak Adam adalah untuknya, ‘Kecuali puasa, itu untuk-Ku dan Aku yang langsung membalasnya. (HR. Bukhari).

Maka sudah seyogyanya dalam bulan puasa umat Islam lebih meningkatkan amal ibadah dan kebersihan hatinya dengan melaksanakan segala bentuk kewajiban dan kesunahan.

Namun yang tak kalah penting diperhatikan bahwa selain amal ibadah yang dilipatgandakan pahalanya, amal burukpun dilipatgandakan. Sehingga selain meningkatkan amal baik, hendaknya dalam bulan Ramadlan umat muslim berusaha menjauhi segala larangan dan kemakruhan.

Berikut beberapa hikmah diwajibkanya puasa Ramadhan: 1. Sebagai bekal menuju surga firdaus. 2. Menjadi pemicu untuk mengasihi orang-orang yang kelaparan (membutuhkan). 3. Sebagai cara yang efektif untuk meluruskan hati yang menyimpang dari rel ketaatan. 4. Mendapat ampunan Allah dan syafa’at para Malaikat. 5. Dapat mengantarkan kepada sifat zuhud (menjauhi orientasi duniawi). 6. Terapi yang efektif untuk menjauhi kemaksiatan. 7. Mencegah gangguan setan.

Bagi anak-anak millenial dalam menjalankan puasa tidak usah merasa takut kalo puasanya tidak diterima oleh Allah, mulai dengan niat yang sungguh-sungguh/ikhlas untuk menjalankan puasa. Dalam melakasanakan puasa itu ada beberapa tingkatan/level kualitas puasa, yaitu: 1. Shaumul ‘umum (puasa umum), yaitu puasa yang hanya sekedar menahan diri dari makan, minum serta hal-hal lain yang membatalkan puasa. 2. Shaumul khushush (puasa khusus), yaitu puasa yang dilakukan sebagaimana puasa umum dan ditambah dengan menjaga lisan, telinga, mulut, pandangan dan seluruh anggota tubuh dari perbuatan dosa, baik dosa kecil maupun dosa besar. 3. Shaumu khushushil khushush (puasa sangat khusus), yaitu puasa yang dilakukan sebagaimana puasa khusus ditambah dengan berpuasa dari keinginan-keinginan buruk, pikiran-pikiran duniawi dan menahan hati dari hal-hal selain Allah secara totalitas.

insyaAllah pada ketiga level tersebut Allah memiliki pertimbanagan tersendiri karena ibadah puasa seperti yang dijelaskan hadis Qudsi diatas adalah ibadah yang langsung kepada Allah. Wallahu a’lam bi showab.

Share this Post:

Related Posts: