Ramadan dan Spirit Pendidikan Karakter

Blog Single

Oleh Aat Hidayat, M.Pd.I.

 

Pada tahun 2018, Islamic Foundation, sebuah organisasi nirlaba yang berbasis di Amerika Serikat, menyusun Indeks Islami. Indeks ini mendata seberapa baik berbagai negara di dunia dalam mematuhi prinsip-prinsip Islami yang ditetapkan Alquran. Menurut hasil penelitian yang digagas oleh Scheherazade S. Rehman dan Hossein Askari, negara paling Islami di dunia adalah Selandia Baru dengan indeks tertinggi sebesar 9,20. Hal ini dilihat berdasarkan indikator kondisi ekonomi, hukum dan pemerintahan, hak asasi manusia dan politik, serta hubungan internasional. 

Bagaimana dengan Indonesia? Skor Indeks Islami Indonesia berada di urutan 64. Ironisnya skor ini menunjukkan bahwa Indonesia kurang Islami jika dibandingkan dengan Malaysia di urutan 47 dan bahkan Singapura di urutan 22. Hal ini cukup problematis, mengingat Indonesia sebagai negara berpenduduk Muslim terbesar di dunia berdasarkan penelitian yang dilakukan Pew Research Center, dengan populasi Muslim sebanyak 219.960.000 orang atau 12,6 persen dari populasi Muslim di seluruh dunia.

Data ini menunjukkan bahwa keberagamaan (tadayun) umat Islam Indonesia masih belum beranjak dari keberagamaan ritual-formal ke keberagamaan ideal-substansial, dalam istilah K.H. A. Musthofa Bisri disebut shalih ritual dan shalih sosial. Artinya, titik tekan kebergamaan umat Islam Indonesia masih belum mengarah pada pembentukan etika Islami atau akhlaqul karimah. Masih ada sebagian umat Islam Indonesia yang keberagamaannya hanya berhenti pada aspek ritual semata. Padahal, agama dalam pandangan Islam adalah nilai, moral, etika, dan akhlak. Hal ini sebagaimana disabdakan oleh Nabi Muhammad saw., dalam hadis riwayat Imam Muslim, “Al-birr husnul khuluq, Kebajikan adalah etika yang baik.” Hal ini dipertegas oleh seorang penyair Mesir, Ahmad Syauqi: “Wa innamal umamul akhlaqu ma baqiyat. Wa in humu dzahabat akhlaquhum dzahabu, Suatu bangsa dikenal karena akhlaknya. Jika akhlaknya telah runtuh, maka runtuh pulalah bangsa itu.” Oleh Prof. Dr. HAMKA, puisi ini diterjemahkan dalam sebait puisi padat, “Tegak rumah karena sendi, sendi runtuh rumah binasa. Tegak bangsa karena budi, budi runtuh binasalah bangsa.”  

 

Ramadan Syahrut Tarbiyah

Selain disebut Syahrul Mubarak, bulan penuh keberkahan, Ramadan juga adalah Syahrut Tarbiyah, yakni bulan pendidikan di mana segala ritual ibadah yang dilakukan pada bulan mulia ini, mulai dari Shalat Tarawih, sahur, berpuasa, berbuka, sampai tadarus Al-Qur’an, pada hakikatnya dalam rangka latihan rohani (riyadlah) untuk membiasakan dan membentuk etika dan akhlak mulia. Pada aspek tekstual (maddah), spirit Ramadan sebagai Syahrut Tarbiyah ini ditegaskan dalam Q.S. al-Baqarah [2]: 183 pada kalimat, “La’allakum tattaqun, Agar kamu sekalian bertakwa.” Dengan demikian, segala rangkaian ibadah yang dilakukan pada bulan Ramadan ini tidak sekadar aspek lahiriah menahan lapar dan haus semata, tetapi juga aspek batiniah pada pendidikan nurani dan jiwa agar mampu menggapai derajat takwa. 

Selanjutnya pada aspek nilai (mahiyah), wujud Ramadan sebagai Syahrut Tarbiyah ini paling tidak bisa dilihat dari tiga aspek. Pertama, Ramadan melatih umat Islam kemampuan berpikir inovatif. Hal ini tercermin dari ayat pertama yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad saw., Q.S. al-‘Alaq [96]: 1-5 tentang perintah membaca (iqra’). Ayat ini memerintahkan kepada umat Islam untuk selalu membaca, belajar, dan melahirkan inovasi. Kedua, Ramadan melatih umat Islam kemampuan pengendalian diri. Hal ini tercermin pada perintah puasa dengan menahan lapar dan haus serta hal yang membatalkan. Rangkaian puasa yang dilakukan pada hakikatnya sebagai latihan pengendalian marah, mudah memaafkan, menurunkan agresivitas, menjaga lisan, serta menghindari konflik. Misalnya, dalam sebuah hadis riwayat Muslim, Rasulullah saw. mengarahkan bahwa jika ada yang mencela, padahal kita sedang berpuasa, maka kita harus mampu mengendalikan emosi dengan mengatakan, “Inni shaim, Saya sedang berpuasa.” Ketiga, Ramadan juga melatih umat Islam kemampuan relasi dan hubungan sosial. Hal ini tercermin pada tradisi Shalat Tarawih secara berjamaah, kepedulian sosial dalam zakat fitrah, dan tradisi buka bersama.   

Bulan Ramadan ini sebenarnya momentum yang sangat tepat dalam melaksanakan pendidikan karakter bagi umat Islam. Ritual dan tradisi di bulan Ramadan pada hakikatnya secara batiniah merupakan wujud dari pendidikan karakter untuk melatih umat Islam agar mampu menggapai derajat takwa. Bulan Ramadan dapat diilustrasikan sebagai kepompong. Bila kita masuk ke dalam kepompong Ramadan, lalu segala ibadah yang dilakukan sesuai dengan ketentuan-ketentuan metamorfosa Allah swt., niscaya akan mendapatkan hasil yang mencengangkan, yakni insan kamil, manusia paripurna, yang memiliki akhlak indah nan mempesona. [*] 

Share this Post:

Related Posts: