Menyambut Keindahan Malam Seribu Bulan

Blog Single
  • Oleh Edi Bahtiar Baqir M. Ag

“Betapa ironi jika semangat mremo kue lebaran sampai mengorbankan indahnya ibadah di malam seribu bulan”

Sebagai ’’The night of honors” tentu saja kehadiran kemuliaan malam seribu bulan ini sangat didambakan oleh setiap muslim. Allah sengaja menjadikan malam mulia ini sebagai sebuah misteri agar semua muslim selalu bersemangat untuk menyambutnya sejak hari pertama Bulan Ramadhan tiba, ini menunjukkan bahwa kebaikan harus bersifat continue dan misteri ini juga bertujuan agar orang yang mengikuti hawa nafsunya tidak mendapat dosa berlipat karena kesengajaanya melakukan maksiat di malam mulia ini.

 Abi Bakar al-Waraq sebagaimana dikutip oleh Ar-Razi dalam tafsir al-Kabir menegaskan bahwa lailatul qadar itu menjadi mulia karena ada 3 peristiwa mulia yang terjadi pada malam tersebut. Pertama turunnya kitab suci Al Quran yang mulia, yang kedua kitab suci tersebut turun melalui malaikat yang mulia dan diturunkan kepada Nabi Muhammad yang mulia pula. Kemuliaan beliau sangat terasa karena tanpa eksistensi beliau alam raya ini tidak akan pernah tercipta. Ketiga kemuliaan juga diberikan kepada umat Muhammad yang menghidupkan malam Ramadhan dengan berbagai macam ibadah dan amal saleh. Karena itulah pada surat Al-Qadar, kata lailatul qadar disebutkan sebanyak tiga kali.

Terkait dengan misteri malam lailatul qadar ini Imam Ghazali berusaha menguraikan kapan terjadinya malam lailatul qadar itu. Menurutnya malam lailatul qadar bisa ditengarai dengan hari pertama dimulainya puasa bulan Ramadhan. Jika puasa Ramadhan dimulai pada hari Ahad atau hari Rabu, maka malam lailatul qadar jatuh pada malam 29 Ramadhan. Jika puasa Ramadhan dimulai pada hari Senin maka malam lailatul qadar jatuh pada malam 21 Ramadhan. Jika puasa Ramadhan dimulai pada hari Selasa atau Jumat, maka malam lailatul qadar jatuh pada malam 27 Ramadhan, Jika puasa Ramadhan dimulai pada hari Kamis maka malam lailatul qadar jatuh pada malam 25 Ramadhan. Jika puasa Ramadhan dimulai pada hari Sabtu maka malam lailatul qadar jatuh pada malam 23 Ramadhan. Sementara menurut sahabat Ibnu Abbas ra, bahwa kata “lailatul qadar” terdiri dari 9 huruf dan disebut sebanyak 3 kali dalam surat al Qadar sehingga menurutnya malam lailatul qadar itu jatuh pada malam 27 Ramadhan. Berdasarkan rumus dari al-Ghazali tersebut, lailatul qadar pada Ramadhan kali ini jatuh pada malam ke-27.

Lantas bagaimana cara menyambut malam lailatul qadar itu?

Tentu saja idealnya seorang muslim beramai-ramai untuk ibadah di malam itu sebagaimana yang dilakukan oleh Rasul dan Sayyidah Aisyah. Pada malam mulia ini Rasul mengajari Sayyidah Aisyah untuk memperbanyak doa Allahumma innaka ‘afuwwun kariim tuhibbu al’afwa  fa’ fu’annii (Wahai Tuhan, Engkau Maha Pengampun, menyukai orang yang meminta ampunan, ampunilah aku), membaca berbagai macam dzikir serta doa untuk kepentingan kaum muslimin dan ibadah-ibadah ritual lainnya. Disamping itu, sangat dianjurkan juga untuk memperbanyak ibadah sosial seperti berbagi rezeki kepada mereka yang membutuhkannya. Ibadah di malam lailatul qadar ini setara dengan nilai ibadah selama 83 tahun lebih 3 bulan. Hal ini berarti kalau saja seorang muslim selama 20 tahun selalu mendapatkan malam lailatul qadar maka dia akan setara bahkan lebih dengan orang yang beribadah selama 1666 tahun. Lantas bagaimana dengan orang yang selama hidupnya selalu mendapatkan keindahan malam ini ? Betapa beruntungnya dia. Hal ini menjawab kegelisahan Rasul kalau saja umatnya tidak bisa beramal sebanyak umat umat terdahulu yang notabene secara kuantitas umurnya jauh lebih panjang. Sebagaimana Rasul pernah takjub terhadap seorang Bani Israil yang qiyamul lail dan berjuang di siang hari selama seribu bulan.

Namun betapa ironi untuk sementara orang terkadang diakhir ramadhan yang sangat potensial terjadi malam lailatul qadar justru mereka gunakan untuk “mremo” dagangan. Mereka sibuk meramaikan pertokoannya dengan aneka jajanan dan kue lebaran. Sehingga kesempatan emas itu akan berlalu begitu saja. Sepintas mereka mendapatkan keuntungan yang banyak secara materi tapi pada saat yang sama sesungguhnya mereka kehilangan keutamaan lailatul qadar yang bernilai sangat tinggi.

Wallahu a’lam…..

Share this Post:

Related Posts: