Bulan Ramadhan, Perspektif Sains dan Momentum Bermuhasabah

Blog Single

oleh Arghob Khofya Haqiqi,M.Pd

Bulan Ramadhan pada tahun ini terasa berbeda dengan Ramadhan pada tahun tahun sebelumnya, adanya pandemi wabah virus covid 19 yang mulai ada pada bulan maret hingga sekarang di Indonesia mengubah kehidupan yang biasa kita jalankan. Adanya social distancing, menggunakan masker, pola hidup bersih dengan cuci tangan, bekerja dari rumah hingga dijagat maya ramai dengan tagar dirumahaja. Keadaan yang masih ada hingga bulan ramadhan ini juga menyebabkan adanya perbedaan ritual maupun ibadah yang biasa kita lakukan. Seluruh elemen masyarakat sekarang menjadi tidak boleh berada dalam kerumunan, baik itu di tempat ibadah ataupun tempat umum lainnya. Pasalnya pemerintah melalui kementerian agama telah meminta masyarakat untuk menjalankan bulan Ramadhan di Rumah.

Dengan adanya kondisi dan waktu yang lebih lama di rumah daripada sebelumnya menjadikan kita dapat memaknai bulan Ramadhan ini dari berbagai perspektif, salah satunya memahami dan memaknai bulan ramadhan dari perspektif ilmu pengetahuan atau sains. Beberapa hal yang ada di Bulan Ramadhan erat sangat kaitannya dengan berbagai fenomena sains, seperti ketika menunjukkan awal bulan ramadhan pemerintah menggunakan hilal. Hilal adalah bulan sabit muda pertama yang dapat dilihat setelah terjadinya konjungsi (ijtimak, bulan baru) pada arah dekat matahari terbenam yang menjadi acuan permulaan bulan dalam kalender Islam. Hilal dalam sains ini terkait dalam ilmu astronomi. Kemudian pada bulan Ramadhan kita berpuasa selama satu bulan penuh, adanya waktu satu bulan penuh selama 29 atau 30 hari ini dikarenakan adanya Revolusi bulan. Revolusi merupakan gerak berputarnya bulan mengelilingi planet bumi.

Contoh yang lain lagi, dalam berpuasa kita diharuskan menahan segala sesuatu dari hal yang membatalkan mulai terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari. Dalam sains waktu tersebut merupakan akibat adanya rotasi bumi, rotasi bumi merupakan gerak planet bumi berputar pada porosnya. Rotasi bumi menyebabakan adanya perubahan siang dan malam. Pada bulan ramadhan juga terdapat nuzulul quran yang jatuh pada tanggal 17 Ramadhan. Pada malam inilah nabi Muhammad mendapatkan wahyu pertama kali sebagai petunjuk untuk umat islam.  Selain itu juga terdapat malam lailatul qadar  (malam seribu bulan), di malam ini artinya segala kebaikan, ibadah kita senilai dengan seribu bulan lamanya.

Nyaris semua yang ada pada bulan Ramadhan terkait dengan waktu, dalam hal ini seperti teori Albert Einstein yang menjelaskan ada relativitas waktu, waktu itu relative artinya ketika kita berdiam diri untuk menunggu waktu berbuka, waktu sahur dan kegiatan lain dibulan ramadhan akan terasa berbeda dibandingkan ketika kita menunggu waktu lainnya. Untuk itulah agar waktu tidak terbuang percuma maka sebaiknya diisi dengan hal hal yang positif selama bulan puasa. Seperti yang difirmankan dalam kitab suci al Quran berikut:

 “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa” (QS. Al Baqarah : 183)

Ayat tersebut menjelaskan perintah puasa sudah diwajibkan oleh Allah SWT. Tujuaanya  adalah agar kita menjadi orang yang lebih bertakwa. Adanya kondisi pandemi sekarang ini dan berdasarkan perspektif sains tadi maka semestinya ini menjadi momentum yang tepat untuk bermuhasabah diri. Ketika dirumah maka waktu untuk perhatian terhadap keluarga, pasangan suami istri dan anak anak akan bertambah, mulai dari sahur bersama, buka bersama, tadarus hingga tarawih bersama dirumah dapat dilakukan untuk meningkatkan ketaqwaan diri kita.

Bulan ramadhan juga menjadi momentum bermuhasabah sosial, adanya kondisi yang mengharuskan kita tidak boleh berkerumun dan berinteraksi secara langsung di luar, harusnya tidak menjadikan diri kita apatis terhadap yang lain. Terlebih dibulan ramadhan ini kita dapat bersedekah membantu  masyarakat lain yang terdampak adanya pandemi ini, selain itu juga adanya kewajiban zakat dibulan Ramadhan dapat menjadi momentum untuk mensucikan diri dan juga membantu masyarakat yang membutuhkan.

Semoga ikhtiar kita dalam bulan Ramadhan selama pandemi Covid-19 ini memberikan kemanfaatan terhadap sesama dan memperoleh ridho Allah SWT. Wallahu a’lam bish-shawab.

Share this Post:

Related Posts: