Karantina Takwa di Masa Pandemi Corona

Blog Single

Oleh Dr. Mas’udi, S.Fil.I., M.A.

Ujian Virus Corona yang muncul di tengah-tengah manusia saat ini menjadi pembuka pintu kesadaran bahwa setiap orang harus selalu dekat dengan Allah SWT. Karantina keimanan penting dimunculkan dalam diri manusia dengan mendahulukan sikap bersih diri. Kebersihan diri manusia harus menjadi ihwal pertama yang didahulukan. Kebersihan yang diwujudkan oleh manusia dalam kehidupannya akan selalu mendukung mereka untuk menjadi pribadi yang dekat kepada Allah SWT.

Kehadiran ujian Virus Corona yang ada di tengah-tengah manusia telah menggiring setiap diri agar selalu dekat dengan kebersihan. Protokol kesehatan yang telah ditetapkan kepada setiap orang agar selalu mencuci tangan setiap 20 menit berjalan, menjadi cermin berharga bahwa untuk hidup semakin baik dan meraih keberlanjutan yang nyaman, mereka harus selalu bersih. Kesadaran untuk selalu menjauh dari infeksi Virus Corona adalah kunci berharga bahwa manusia harus selalu bersih dan dekat dengan keimanan. Keimanan yang tertanam dalam setiap diri adalah cermin adanya ketakwaan.

COVID-19 menghantarkan setiap diri untuk selalu menjaga kedisiplinan. Kedisiplinan ini tampak pada protokol kesehatan yang menuntut mereka untuk selalu mencuci tangan dua puluh menit. Disiplin ini secara hakiki menggugah setiap orang bahwa “The time is money” waktu itu ibarat uang. Eksistensinya menjadi hal penting yang harus selalu dijaga dan dilestarikan agar manusia terhindar dari kerugian. Karantina diri menggiring setiap diri paham akan kebutuhan hidup yang minimum. Pandemi Virus Corona menyadarkan masing-masing diri agar jauh dari pemberosan.

COVID-19 menghantarkan setiap diri agar mengamalkan semua materi pengajian yang telah lama diikuti di setiap majlis taklim dengan baik. Setiap diri diberikan kewenangan untuk menjadi tokoh agama bagi diri dan keluarganya. Untuk mewujudkan keluarga baik, setiap orang harus selalu sadar akan kebaikan-kebaikan hidup. Setiap diri dalam keluarga harus senantiasa sadar bahwa keluarga merupakan unsur terkecil bagi perwujudan sosial yang lebih besar, yaitu masyarakat. Jika setiap diri menginginkan kondisi sosial yang baik, maka mereka dituntut untuk menciptakan keluarga kecil yang beradab dan memiliki moralitas.

COVID-19 menghantarkan segenap aparat pemerintahan kepada kesadaran bahwa mereka ada karena telah dipilih rakyat. Hubungan patron-klien yang lebih menghantarkan pemerintah dan rakyatnya kepada kesadaran simbiosis-mutualistik tampak terasa. Pemerintah dituntut secara nyata untuk memfasilitasi kebutuhan rakyatnya di tengah-tengah keterhimpitan ekonomi. Mereka digiring untuk menjauhkan diri dari jebakan pencitraan demi orientasi politik temporal yang tidak pro-rakyat. Sementara itu, rakyat akan semakin disadarkan dirinya untuk mengkalkulasi semua wakil rakyat yang dipilihnya secara sempurna.

Setiap diri secara hakiki harus selalu membangkitkan introspeksi bahwa lingkaran kehidupan ini berjalan dalam kompleksitas. Kondisi individu yang ada dapat menghantarkan manusia menuju kepada kondisi sosial yang lebih besar. Untuk itulah, sebagai istidzkar, “Man ‘arafa bu’dassafari ista’adda” barangsiapa paham akan jauhnya perjalanan, maka siapkan bekal. Wallahu a’lam.

Share this Post:

Related Posts: