Melatih Ikhlas di Tengah Pandemi Korona

Blog Single

Oleh : Dr. Any Ismayawati, SH, M.Hum

Ramadhan kali ini menjadi “istimewa” dengan diturunkannya makhluk yang tak kasat mata tetapi bisa memporak porandakan segalanya. Menyasar semua tanpa kenal kasta. Menghantam siapapun tanpa memandang status sosialnya. Mengubah ritual yang lazim terlaksana. Mengganti adat kebiasaan yang sudah membiasa. Meluluhlantakkan tidak hanya negara, bahkan dunia, dan mampu menjungkirbalikkan logika. Semua ini kuasa Allah yang menyayangi kita semua agar sadar, tidak jumawa dengan kesombongan kita. Hanya dengan makhluk yang ukurannya tak dapat dilihat dengan mata, kita tak berdaya dibuatnya.

Perintah menjalankan Ibadah puasa sesungguhnya tidak hanya perintah untuk menahan lapar dahaga, akan tetapi lebih dari itu, makna yang terkandung dalam menahan lapar dan dahaga adalah adanya ajaran yang ditujukan bagi orang yang beriman umtuk memiliki ketakwaan, kesabaran, tetap berjalan dijalan Allah, dan menjalankan amar ma’ruh nah munkar, dalam kondisi sesulit dan seberat apapun juga.

Dengan melatih kesabaran dalam menjalankan ibadah puasa, menjadikan diri kita menjadi tangguh dalam menghadapi persoalan dan bencana. Dengan memiliki ketakwaan akan menjadikan seseorang mempunyai jiwa optimis, semangat yang tinggi dalam memperbaiki masa depannya. Ketakwaan juga menjadikan kita mempunyai kekuatan untuk bangkit dari keterpurukan, selalu semangat  menjalani hari esok dalam kondisi apapun tanpa putus asa. Semua itu dapat diperoleh apabila dalam menjalankan ibadah dilakukan dengan ikhlas. Imam Al-Qurthubi menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan ikhlas adalah hanya semata-mata mengharap wajah (ridha) Allah, tidak ada tujuan lainnya. Tidak ada tujuan politis, kepentingan pribadi, ingin dipuji ataupun terbersit tujuan materi.

Menjalani ramadhan di tengah pandemi, seharusnya menjadikan kita lebih mawas diri. Apakah ibadah yang kita jalani benar-benar ikhlas hanya untuk Illahi Robbi? Banyak orang yang galau ketika ibadah di bulan puasa kali ini tidak sebagaimana yang biasa kita jalani. Di sinilah kita diuji keikhlasan dalam beribadah secara hakiki. Ikhlas, sesungguhnya mudah untuk melaksanakan, asal kita tidak dibebani berbagai kepentingan diri. Ikhlas, menjadikan kita tidak risau ketika harus menjalankan ibadah di rumah saja, karena ibadah kita seharusnya untuk Allah semata, tidak perlu orang lain melihatnya, tidak harus tetangga mengetahuinya. Ikhlas, berarti ibadah kita harus bersih dari nafsu yang ingin menunjukkan bahwa kita ahli ibadah yang paling mulia. Ikhlas, berarti kita harus berlapang dada jika untuk sementara masjid kita harus sepi dari jamaahnya. Ikhlas itu ketika kita memperbanyak ibadah di bulan mulia hanya untuk mengharap ridloNYA. Ikhlas itu jika di bulan yang penuh rahmat ini, kita tetap bersemangat menjalankan semua ibadah tanpa ada orang lain yang memujinya.

Sesungguhnya inti dari ajaran di bulan yang penuh ampunan ini adalah melatih kita agar bisa ikhlas, termasuk ketika kita membantu para korban terdampak covit-19 harus dilakukan dengan ikhlas. Memberi bantuan hanya semata-mata mengharap ridlon Allah, bukan karena ingin disanjung tetangga, bukan karena ingin dacap sebagai orang yang rajin berderma, bukan karena karier politik ke depannya juga bukan untu pencitraan semata.

Saat ramadhan tiba, banyak orang berbondong-bondong ke pantai asuhan, akan teteapi jika Ramadhan telah pergi panti asuhan kembali sepi. Banyak orang menyantuni yatim piatu dengan menggandeng media, apakah itu ikhlas dalam tindakannya? Berlomba-lomba memberi bantuan dalam sorotan kamera, apakah itu ikhlas yang sesunggunya? Hanya hati nurani kita yang mampu menjawabnya, apakah kita sudah bisa lulus latihan di saat bulan puasa?

Sekali lagi puasa adalah untuk “melatih”, membiasakan kita beribadah dengan ikhlas, artinya setalah puasa dalam kondisi yang lebih baik (tidak sedang lapar dan dahaga) keikhlasan itu sudah harus menjadi nafas kita, sudah menjadi peri laku kita. Dalam setiap perbuatan harus dilandasi keikhlasan sepenuhnya, bukan karena apa dan siapa tapi hanya karena Allah semata. Jadi yang ketika pada waktu bulan ramdhan melakukan ibadah dengan khusuknya, maka setelah ramadhan harus demikian adanya. Bagi yang pada bulan remadha bersemangat beribadah dengan menjalankan sholat-sholat sunnah, maka setelah ramadhan sholat-sholat sunnah tidak boleh ditinggalkanya. Jika pada bilan ramadhan rajin berkunjung ke panti asuhan, maka setelah ramadha panti asuhan harus tetap disambanginya. Demikian seterusnya….karena ikhlas sudah menjadi jiwa kita, melakukan segala perbuatan hanya berharap ridlo Allah semata, bahkan berharap pahala pun tak boleh dilakukannya. Ikhlas juga melatih seseorang dengan tegar menerima setiap kejadian, apapun bentuknya. Dengan adanya pandemi covet 19 menjadi ladang ibadah yang memberikan peluang pada kita untuk ikhlas berbuat baik seluas-luasnya.

 

Share this Post:

Related Posts: