Prof. Fatah: Meraih Profesor Jangan Menjadi Momok

Blog Single

Program Sabbatical Leave yang digagas Direktorat Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam (DIKTIS) Kementerian Agama merupakan terobosan yang bagus untuk meningkatkan kualitas pendidikan tinggi PTKIN.  Program ini dirancang dalam rangka mengakomodasi para dosen untuk menambah kecakapan akademik, meningkatkan program penelitian unggulan, benchmarking, serta mengembangkan kemitraan. Program Sabbatical Leave ini memberikan kesempatan pada dosen untuk merenung dan berkontemplasi untuk mengevaluasi kinerjanya. Di negara lain, program serupa menjadi rutinitas dosen agar mereka dapat menghasilkan inovasi.

Yang terjadi di Tanah Air, dosen terlalu disibukkan dengan kegiatan mengajar hingga lupa untuk merenungkan apa yang telah dilakukan dalam jangka waktu yang panjang. Direktur Diktis, Prof. Dr. Arsekal Salim, M.A. menyampaikan bahwa di Indonesia belum ditemukan kampus yang menjalankan program ini.

“Dosen yang kebanyakan mengajar biasanya materi yang disampaikan itu-itu saja. Bertahun-tahun slide paparannya itu-itu saja. Jadi dengan program merenung ini diharapkan mereka dapat menghasilkan sesuatu yang baru” ujarnya.

Selain kegiatan merenung dan kontemplasi untuk mengevaluasi kinerja, peserta Sabbatical Leave juga harus mendesiminasikan pengalaman dan pengetahuannya di tempat tujuan, terutama untuk meningkatkan dosen ke jenjang guru besar. Salah satu peserta Sabbatical Leave, Prof. Dr. H. Fatah Syukur, M.Ag., Guru Besar Ilmu Manajemen Pendidikan dari UIN Walisongo Semarang, yang mendapatkan tugas Sabbatical Leave di IAIN Kudus dan IAIN Jember, mengingatkan, meraih professor jangan menjadi momok.

Prof Fatah menyampaikan hal itu pada Talk and Share bersama pada guru besar dan dosen-dosen senior yang sudah doktor dan lektor kepala di IAIN Jember. Hal yang sama juga dilaksanakan di IAIN Kudus pada Jumat (01/11/2019).

“Mengajukan jabatan guru besar memang tidak mudah tetap jangan menjadi momok, sehingga berhenti dan tidak melakukan usaha apapun” ujarnya.

Ada dua komponen yang sering menjadi kendala dalam mengajukan guru besar. Komponen pertama berkaitan dengan instrumental dan kompenen kedua berkaitan dengan substansial. Komponen instrumental lebih kepada persoalan teknis bagaimana melakukan submit, bagaimana berkomunikasi dengan pengelola jurnal yang berbahas asing, bagaimana mencari jurnal yang terindek scopus agar tidak terjebak pada jurnal predator, dan sebagaimana. Bagi generasi milenial yang sudah familier dengan IT, faktor instrumental ini mungkin tidak terlalu menjadi kendala. Tetapi bagi generasi jadul yang gaptek, tentu faktor ini menjadi kendala tersendiri.

“Oleh karena itu, maka cara mengatasinya tidak lain harus minta bantuan kepada mereka yang menguasai bidang IT. Terlalu lama kalau kita harus belajar IT. Serahkan pada ahlinya” sambungnya.

Sedangkan komponen yang kedua adalah substansial. Bagaimana menulis artikel yang bisa dimuat di jurnal internasional terindeks? Tentu harus dimulai dari sebuah penelitian yang bagus, mulai dari membuat proposal, merumuskan permasalahan, melalukan penelitian dengan metode yang tepat dalam pengumpulan data dan menganalisis yang tepat dan tajam. Kalau faktor data dan analisis ini terpenuhi dan lengkap, maka penyusunan artikel sesungguhnya juga tinggal masalah  teknis, yang bisa dibantu orang lain. Permasalahannya adalah tidak pernah meneliti dengan baik, menginginkan bisa membuat artikel yang baik.

Selain faktor kompetensi, menurut Prof Fatah, kendala mengajukan professor ada juga faktor budaya dan psikologis. Kebutuhan guru besar bukan hanya untuk kepentingan pribadi dosen, akan tetapi juga untuk kepentingan institusi. Oleh karena itu pimpinan PTKIN harus memberikan iklim yang kondusif, kemudahan-kemudahan, bantuan penelitian dan sebagainya,  agar para dosen yang sudah doktor segera mengajukan ke guru besar.

Share this Post:

Gallery Foto

Gallery Thumb 1Gallery Thumb 1

Related Posts: