Studium General Fakultas Ushuluddin Bekali Mahasiswa Di Era Komunikasi Digital 4.0

Blog Single

Sebanyak 380 mahasiswa baru (Maba) mengikuti Studium General yang diselenggarakan oleh Fakultas Ushuluddin IAIN Kudus, dengan tema “Peluang dan Tantangan Mahasiswa Ushuluddin Di Era Komunikasi Digital 4.0” di Aula SBSN Tarbiyah Lantai I, pada Senin (26/08/2019).

Dibuka Wakil Rektor I IAIN Kudus Dr. H. Supa’at, beliau menjelaskan, mahasiswa ushuluddin harus bisa mempersiapkan diri di tengah kemajuan teknologi komunikasi yang begitu pesat. Dengan menghadirkan  Prof. Dr. Amsal Bachtiar sangatlah tepat, karena beliau merupakan alumni Ushuluddin dan sekarang menjabat sebagai Kepala Pusat Penelitian dan Penggembangan Pendidikan Agama Kemenag.

“Harapannya, acara ini akan memberikan pencerahan tentang pendidikan Islam dan kajian Islam secara umum, agar mahasisa memiliki peran penting dan ikut andil dalam kemajuan teknologi,” ujarnya.

Prof. Dr. Amsal Bachtiar menerangkan, berada di era revolusi industry 4.0 tidak terlepas dari adanya jaringan internet. Sehingga telah terjadi disrupsi, seseorang lebih membutuhkan bahkan ketergantungan terhadap internet. Adanya  intelegensi artifisial (kecerdasan buatan) menggantikan fungsi manusia dengan robot. Hadirnya big data dapat memunculkan perpustakaan Islam digital, orang bisa mengakses sumber-sumber keislaman secara digital.

“Perguruan tinggi akan mengalami disrupsi, yang tadinya orang belajar tergantung pada  buku dan dosen, tetapi sekarang sudah banyak infomasi dari internet,” ujarnya. Hal ini yang menjadi tantangan perguruan tinggi, terutama Fakultas Ushuluddin dalam menghadapi gejolak tersebut.

“Empat hal yang diperlukan agar mahasiswa Ushuluddin tetap eksis yaitu, harus berpikir kritis (tidak hanya sekedar berkritik tetapi menganalisa lebih dalam), memiliki keinginan yang besar, menjalin kolaborasi, berfikir kreatif,” ujarnya.

Lebih lanjut beliau menjelaskan, yang dikaji di Ushuluddin itu meliputi nilai-nilai dasar, universal, perdamaian, dan etika, maka hanya Ushuluddin yang bisa menjawab permasalaham yang ada.

Dekan Fakultas Ushuluddin menguatkan bahwa keberadaan agama di era 4.0 sangatlah penting. Karena dengan kemajuan IPTEK, terjadi pergeseran nilai agama, sehingga nilai agama tidak dihiraukan lagi.

“Agama menjadi peran penting. Kita bisa meningkatkan energi positif kita  dengan mendalami agama yang kita yakini. Sehingga nilai God Spot yang ada, mendorong kita untuk beraktivitas lebih, dalam meningkatkan prestasi kerja dan belajar kita dibandingkan orang lain,” pungkasnya.( Yusi-Humas IAIN Kudus)

Share this Post:

Related Posts: