Prof. Hadri Jelaskan Peluang dan Tantangan Ekonomi Islam di Era Industri 4.0 pada Studium General FEBI IAIN Kudus 2019

Blog Single

Berkembangnya perekonomian di dunia, harus menjadi perhatian penting bagi mahasiswa baru (Maba) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) IAIN Kudus. Hal ini disampaikan secara tersirat oleh narasumberi Prof. Dr. Hadri Kusuma, M.B.A, dalam acara Studium General FEBI. Acara ini mengusung tema Ekonomi Islam di Era Industri 4.0  dan diadakan di Aula Perpustakaan SBSN lantai IV pada Selasa (27/08/2019).

Dekan FEBI Dr. Supriyadi, S.H, M.H, dalam sambutanya menjelaskan, pentingnya perekonomian Islam saat ini, diharapkan materi yang disampakan lebih terfokus pada kompetensi mahasiswa. Karena sebagai generasi yang akan datang wajib paham mengenai dunia perekonomian.

“Seluruh Maba FEBI yang berjumlah 850 ikuti  studium general ini, selain sebagai bekal, juga sebagai pegangan selama proses perkuliahan yang akan berlangsung,” jelas beliau.

Seluruh peserta terdiri dari program studi (prodi) Manajemen Bisnis Syariah 233 Maba, Ekonomi Syariah 235 Maba, Manajemen Zakat dan Wakaf  61 Maba, Perbankan Syariah 155 Maba dan Akutansi Syariah 115 Maba.

Prof. Dr. Hadri Kusuma, MBA menjelaskan tentang sistem ekonomi yang ada di dunia mulai dari sistem ekonomi sosialis, kapitalis, campuran sosialis dan kapitalis, dan sistem ekonomi Islam. Tidak dipungkiri Revolusi Industri 4.0 ini, telah merambah ke segala sendi ekonomi. Konsep digitalisasi ekonomi dominan menggunakan teknologi canggih dalam kegiatan ekonominya. Perkembangan dan pemanfaatan digital sudah menjadi keniscayaan.

“Di satu sisi  digital membawa manfaat dan membuka luas peluang bagi suatu negara untak melakukan leap-frog (lompatan), di sisi lain, digital membawa tantangan akibat perubahan yang ditimbulkan,” jelas beliau.

Lebih lanjut beliau menerangkan, tantangan tesebut yaitu munculnya digital control, ekonomi digital yang akan mengendalikan masyarakat, otomatisasi mengancam tenaga kerja banyak tergantikan dengan robot atau mesin, serta akan muncul kompetisi yang tidak sehat.

“Teknologi hanya alat dan bersifat netral, namun harus diingat a man behind the gun,” lanjutnya.

Luqman Abdurrohman mahasiswa program studi Ekonomi Syariah menjelaskan, ilmu yang disampaikan beliau menjadi pengetahuan baru. Pembahasan yang sangat penting dan membantu Maba untuk menghadapi perkembangan ekonomi digital yang sangat cepat, khususnya kita yang berkemampuan Ekonomi Islam.

“Saya mengetahui banyak hal tentang kelemahan dan kelebihannya dari ekonomi Islam ini, dan bagaimana menghadapinya di era digital seperti ini,” terangnya.

Lanjutnya, kami para mahasiswa baru diharapkan menjadi generasi ekonom yang handal dan dengan tidak melupakan kemampuan kita sebagai umat Islam. (Yusi-Humas IAIN Kudus)

Share this Post:

Related Posts: