Bekali Maba Pengetahuan Anti Korupsi, Fakultas Syariah IAIN Kudus Hadirkan Mochammad Jasin pada Studi General 2019

Blog Single

Sebanyak 285 Mahasiswa Baru (Maba) mengikuti Stadium General dengan tema “Korupsi Prespektif Fiqh dan Hukum Positif di Indonesia”. Kegiatan ini diadakan oleh Fakultas Syariah IAIN Kudus di Gedung Perpustakaan Terpadu Lantai 4 pada Senin (26/08/2019).

Studium General Fakultas Syariah IAIN Kudus kali ini menghadirkan narasumber Dr. H. Mochammad Jasin, M.M. Beliau adalah mantan Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) periode 18 Desember 2007 - 16 Desember 2011.

Mochammad Jasin menjelaskan, jumlah  kasus oknum yang  terjerat korupsi yaitu 18 hakim, 205 DPR DPRD,105 walikota atau bupati, 19 gubernur ,198 swasta,25 menteri.  Dapat disimpulkan ada dua macam tipe korupsi, yaitu karena keserakahan dan kesempatan.

“Kesempatan korupsi itu muncul dikarenakan beberapa faktor yaitu sistem birokrasi yang jelek, merasa kurang sejahtera, contoh moral yang buruk dari pimpinan,  dan budaya melawan ketaatan hukum yang ada,” ujarnya

Di dalam hukum Islam sendiri, setidaknya ada enam istilah penjabaran korupsi, yaitu ghulul (penggelapan, risywah (penyuapan), ghashab(perampasan), ikhtilas (pencopetan), sirqah (pencurian), hirabah (perampokan). Korupsi karna keserakahan dan kesempatan tersebut harus dibrantas dan harus dicegah.

“Jika korupsi dikarenakan greedy atau serakah, maka pencegahannya melalui penegakan hokum. Jika karena opportunity maka perlu tindakan preventive dengan amar makruf nahi mungkar,” lanjutnya.

Senada dengan Mochammad Jasin, Rektor IAIN Kudus Dr. Mundakir, M.Ag menyampaikan, korupsi di Indonesia masih marak terjadi, berdasarkan indek persepsi korupsi tahun 2018, peringkat Indonesia rendah, jauh dibawah Singapura dan Malaysia. Bahkan yang lebih memprihatinkan dengan mayoritas penduduk beragama Islam, tingkat korupsi di Indonesia masih tinggi.

“Dalam agama perilaku korupsi itu dilarang, dan sekitar 85%  penduduk Indonesia adalah muslim, artinya agama belum bisa menjadi filter dalam mencegah perilaku korup,” jelas beliau.

Dengan adanya kegiatan ini, diharapkan dapat mencegah korupsi dengan menyertakan agama sebagai memprotect, membentuk dan membendung perilaku anti korupsi.

Selaku penyelenggara kegiatan, Dekan Syariah Any Ismayawati menyampaikan bahwa dengan wawasan mengenai anti korupsi, diharapkan mahasiswa bisa menjadi agen perubahan yang melawan korupsi.

“Kami menginginkan para mahasiswa yang kelak menjadi praktisi hukum, menjadi praktisi yang anti korupsi,” harapnya.

Pengangkatan tema ini disambut baik oleh Agus Adiana, selaku mahasiswa Program Studi Hukum Keluarga Islam, Ia merasa senang ketika mengetahui narasumber yang dihadirkan  dalam stadium general adalah seorang pakar hukum.

“Tema ini sangat bagus, saya pribadi senang bisa mengenal seperti apa KPK, bagaimana cara kerjanya langsung dari Pak Yasin yang seorang yang pernah jadi pimpinan KPK. Dan tema ini sangat membantu saya sebagai mahasiswa baru,” pungkasnya. (Yusi-Humas IAIN Kudus)

Share this Post:

Related Posts: