Lailiyatun Nafisah Menjadi Wisudawan Terbaik dari 1521 Wisudawan di IAIN Kudus

Blog Single

Meningkatnya minat masyarakat di dunia pendidikan perguruan tinggi, Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kudus capai prestasi akademik baru dengan jumlah wisudawan 1521. Pada Siding Senat Terbuka Wisuda XXV Program Sarjana Strata 1 dan Wisuda VII Program Pascasarjana Strata 2, hari pertama berjumlah 793 wisudawan, yang dilaksanakan di Aula Olahraga Kampus Timur, pada Sabtu (29/06/2019).

Wakil Rektor I Bidang Akademik, Supa’at menuturkan, wisudawan dan wisudawati program strata 1 yang telah diwisudakan hari ini terbagi dari empat fakultas, meliputi Fakultas Ushuluddin sejumlah 82 wisudawan, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam 459 wisudawan, Fakultas Syariah 63 wisudawan, dan Fakultas Dakwah dan Komunikasi Islam 103. Sedangkan untuk Program Strata 2 Pascasarjana yang diwisudakan mencapai 86. Terdiri dari Magister Manajemen Pendidikan Islam (MPI) 75 wisudawan dan Magister Ekonomi Syari’ah 11 wisudawan.

Tahun ini ada berita bagus yang harus dikabarkan oleh banyak orang, lanjut beliau, pertama sebanyak 40 wisudawan periode Juni 2019 lulus dijalur tahfidz (red: menghafal al Qur’an). Yang diwisuda hari ini ada 12 wisudawan dan 28 wisudawan tahfidz lainnya mengikuti wisuda tanggal 30 Juni 2019.

“Kedua untuk wisudawan terbaik periode Juni 2019 diraih oleh Lailiyatun Nafisah dari Fakultas Ushuluddin dari Prodi Ilmu Hadist yang mencapai IPK 3,93,” jelas beliau.

Hadir menjadi wisudawan terbaik di civitas akademik IAIN Kudus, membuat Lailiyatun Nafisah untuk terus bersemangat dalam mengembangkan ilmu yang telah dipelajari di bangku perkuliahan. Ia langsung tancap gas untuk melanjutkan kejenjang yang lebih tinggi. “Ingin mengikuti beasiswa Turki, beasiswa LPDP dan mencoba beasiswa yg lain, siapa tahu ada jalan,” jelas Nafisah, anak kedua dari 4 bersaudara.

Tidak ada yang instan untuk merain kesuksesan, ia menjelaskan, sebelum berangkat berkuliah lebih sering membaca buku dan mencari informasi baru yang dapat menambahkan ilmu saat diskusi di perkuliahan. Menjadi orang yang tekun lebih penting, jangan berpikir menjadi orang pintar atau cerdas. Lanjutnya, sehingga akan berusaha terus menerus dan tidak akan pernah bosan untuk belajar.

“Semuanya tetap berusaha dan setiap apa yang dilakukan akan bermanfaat dan berkah, juga di ridhoi Allah,” uangkap Nafisah yang hobi menulis sejak semester lima. 

Perjuangan dalam berkuliah juga menjadi cerita dalam kehidupannya, dulu pun ia pernah pekerja di salah satu perusahaan jenang. Mengingat perjuangan dalam mengumpulkan rupiah, ia pun memiliki tekad untuk terus serius dalam berkuliah dan membahagiakan orangtua. Untuk menambahkan ilmu agama, ia juga menjadi santriwati di Pondok Pesantren di Kudus.

Ada kebiasaan unik yang membuat Nafisah mendapatkan keberkahan dalam menuntut ilmu, lebih sering sebelum ujian, ia selalu meminta restu kepada ibu dan bapaknya. “Biasanya saya membasuh kaki ibu, intinya untuk meminta restu kepada beliau,” pungkas Nafisah anak dari Syahri dan Yun Khalim. (Salam/Humas IAIN Kudus).

Share this Post:

Gallery Foto

Gallery Thumb 1Gallery Thumb 1

Related Posts: