Idul Fitri dan Kisah Iblis Yang Awalnya Ahli Ibadah

Blog Single

Idul Fitri momentum saling maaf-memaafkan antar sesama yang sudah mengakar sejak zaman dulu. Bangsa Indonesia di tahun 1948 memiliki ciri khas unik yang diberi nama Halal bi Halal oleh KH. Wahab Chasbullah melalui Ir. Sukarno Presiden pertama Republik Indonesia. Dijelaskan juga oleh KH. Kustur Faiz dalam pelaksanaan Halal bi Halal di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kudus, Senin (10/06/2019).

“Kegiatan seperti Halal bi Halal pernah digagas oleh Adipati Arya Mangkunegara I atau sebutan lainnya Pangeran Sambarnyawa yang dinamakan sungkeman,” tutur beliau.

Proses Halal bi Halal memiliki keunikan tersendiri, itulah yang dijadikan strategi Ir. Sukarno dalam mengondusifkan gejolak bangsa saat itu. Karena setiap manusia memiliki kehendak dan keinginan masing-masing dalam berpolitik.

Kiai Kustur mengatakan, dalam tubuh manusia ada akal dan nafsu, sehingga terdapat dua unsur yang ada di dalam diri manusia, yaitu ada unsur akal meliputi tunduk dan taat, sedangkan nafsu meliputi membangkang dan maksiat.

“Ada lima jenis nafsu yang dimiliki oleh manusia yaitu: Lawwamah, Ananiah, Ammaroh, Khayawaniah, dan Mutmainnah. Yang harus kita pelihara hanya mutmainnah, untuk keempat lainnya kita buang,” jelas beliau.

Lauwamah (nafsu serakah) hidupnya tidak bisa sederhana, Ananiah (kesombongan), merasa lebih baik dari lainnya. Lanjut beliau, sifat tersebut seperti halnya dengan iblis, makhluk  Allah Swt. yang awalnya makhluk paling hebat dan luar biasa.

“Iblis itu pernah menjadi penjaga surga selama 40 ribu tahun, berkumpul dengan malaikat 80 ribu tahun, pernah menjadi penasehat malaikat selama 20 ribu tahun, pernah mejadi ketua malaikat selamat 30 ribu tahun, thowaf di kanan-kirinya ‘Arsy selama 14 ribu tahun,” terang Kiai Kustur.

Iblis makhluk pertama yang mendapatkan predikat paling ahli ibadah, Iblis tidak tertarik dengan kehidupan dunia, iblis ahli ma’rifat, pernah menjadi  wali, ahli taqwa, penjaga Allah Swt, dan mengetahui nasib dunia. “Hanya satu kesalahan yang dimiliki iblis, tidak mau “sujud” kepada Adam AS,” terang beliau.

Iblis menjadi “lampu merah” bagi kehidupan manusia, setinggi apapun pangkat seseorang, ketika memiliki kesombongan dalam dirinya akan menjadi rendah di hadapan Allah Swt. “Mudah-mudahan dengana adanya acra Hahal bi Halal ini, sebagai kewajiban kita untuk mendidik bukan memintarkan masyarakat. Sehingga yang pertama adalah agama, agama, dan agama agar terhindar sikap kesombongan diri,” pungkas Kustur Faiz.

Tausiah penting KH. Kustur Faiz memberikan bekal bagi masyarakat di civitas akademik IAIN Kudus dalam menjalankan tugas akademis. Selesai tausiah, seluruh tamu undangan bersama pimpinan, dosen, dan pegawai mengadakan musofahah untuk merekatkan suasana. Tidak lupa lantunan shalawat dipimpin langsung oleh Nasid Ma`had Al- Jami`ah IAIN Kudus. (Salam/Humas IAIN Kudus)

Share this Post:

Gallery Foto

Gallery Thumb 1Gallery Thumb 1

Related Posts: